APA GUNANYA TELEPON?
September 01, 2008

Apa gunanya telepon? Tentu sahabat sudah bisa menjawabnya kan. Tentu saja untuk telepon-teleponan. :)
Bagi sebuah instansi atau perusahaan, peranan 'penerima telepon' ternyata sangat besar. Sebagai front liner, mereka ketiban tugas tidak hanya menjawab 'halo' atau 'selamat pagi' atau 'selamat siang' ketika ada telepon masuk, tetapi juga harus bisa memberikan kesan yang baik (image) kepada 'si penelepon'. Sebab bisa jadi, calon customer kabur dan batal menjadi customer hanya gara-gara mangkel kepada si mbak or si mas yang menjawab teleponnya. Padahal seseorang menelepon itu pasti karena ada tujuan dan harapan. Misalnya untuk mendapatkan informasi biaya pendidikan, informasi apakah si anu atau si ani sudah datang atau belum (karena mereka ada janji) dll. Dan tentunya sebuah instansi atau perusahaan juga mempunyai tujuan dan harapan ketika mencantumkan nomor telepon kantor di kop surat atau di iklan. Untuk mempermudah customer ataupun calon customer untuk berkomunikasi dengan mereka, tanpa harus bertemu di kantor. Ini akan menghemat biaya.
Saya baru saja mengalami kejadian yang kurang mengenakkan tentang telepon-teleponan ini. Sejak tadi siang sekitar pukul 12.00-an saya mencoba menghubungi dosen pembimbing 2 (DP2). DP2 ini sepertinya termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan telepon. Beliau mempunyai handphone, tetapi sepertinya jarang beliau gunakan. Menurut mbak administrasi di kampus, beliau tidak membawa serta handphone-nya ketika pergi (ditinggal saja di kantor). Jadilah mahasiswi yang sedang 'berjuang' ini mau tidak mau harus menelepon beliau di kantor.
Pertama kali saya telepon, tadi, beliau belum datang. Kedua kalinya, kata si mas (orang yang sama dengan yang mengangkat telepon pertama tadi) beliau masih sholat. Pikir saya, 'kok mbulet ya'. Akirnya saya mencoba bargaining dengan si mas. Berikut cuplikannya:
m: masih sholat tuh, mbak. ini dari siapa ya?
v: saya vina. mahasiswinya. mmm...sebenarnya saya cuma mau tanya dikit aja kok, mas. bisa tolong ditanyakan, mas? soalnya kalo di sms atau ditelpon nggak diangkat. saya cuma mau tanya kapan bisa diambil revisian skripsinya. gitu aja sih sebenarnya. bisa nggak mas. nanti saya telepon lagi.
m: mmm....(si mas ngomong sama orang lain) bukan, bu. udah dari tadi kok ini. (dengan saya lagi) udah datang kok, mbak. mbak ke sini aja sekarang. (saya jadi bete mendengar jawaban si mas. alhamdulillah sedang puasa, jadi masih bisa agak kalem)
v: yah, mas. kalo saya ke sana trus belum selesai kan percuma. soalnya terakir saya ke sana, kata beliaunya saya diminta telepon dulu biar nggak kecele seperti sebelumnya. makanya sekarang saya telepon dulu.
m: ini dari siapa sih?
v: saya vina.
m: iya mbak telepon lagi saja lagi. nanti saya panggilkan, kalau beliaunya sudah balik ke kantor.
v: iya deh. terima kasih ya, mas.
Setelah menutup telepon, saya jadi berpikir sebenarnya siapa yang menjawab telepon saya tadi. Jika si mas itu di bagian front office, bukankah seharusnya dia bisa menangani kesulitan saya dengan singkat jelas dan padat?
Di telepon yang ketiga kalinyalah saya baru mendapatkan kepastian dari dosen saya itu. Tapi tetap masih ada rasa yang mengganjal di hati saya. Mangkel. Ini petikan dialognya:
m: ...selamat siang.
v: selamat siang. mas ini masih dengan vina, yang tadi telepon. bisa bicara dengan pak ....
m: dengan siapa?
v: vina
m: mau bicara dengan siapa?
v: (setelah menghela nafas) bisa bicara dengan pak.... saya mau tanya kapan revisi skripsi saya bisa diambil.
m: oh iya sebentar. (si mas pergi, saya masih bisa mendengar suaranya samar-samar dengan dosen saya itu)
m: selesainya besok lusa, mbak.
v: besok lusa ya? rabu.
m: iya rabu.
v: jam berapa, mas?
m: sebentar ya, mbak. saya tanyakan. (dia pergi lagi -bayangkan betapa tidak efisiennya-)
v: jam 11, mbak.
m: jam 11 ya.
....
Yang cukup mengganggu saya adalah dialog yang ketiga ini (cetak tebal). Saya bertanya dalam hati, "Bukankah harusnya pertanyaan itu satu paket? Bisa ditanyakan dengan sekali bertanya. Betapa tidak efektifnya."
Ternyata menjadi 'si penerima telepon' itu tidak gampang. Dan saya sepertinya juga belum ahli di bidang itu. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga. :)
gambar dari sini
-Merdeka!-
Labels: ngoceh
posted by vina @ 2:13 PM,

